Rabu, 16 Mei 2012

Mahasiswa Unsrat Manado Temukan Obat Anti Kanker

 
MANADO - Kanker merupakan penyakit mematikan. Para peneliti terus mengembangkan penemuan obat kanker, dan mahasiswa Universitas Sam Ratulangi(UNSRAT) Manado berhasil menemukan obat antikanker.

Adalah mahasiswa Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sam Ratulangi Manado yang berhasil menemukan obat antikanker dalam lomba debat formulasi bahan alam pada acara Pharmaccutical EaXPO 2012.

Falles The, peserta debat dari Farmasi FMIPA Unsrat mengatakan, temuannya itu berupa kapsul antikanker dari sediaan daun tapak dara putih pencegah kanker.

"Kami menemukan obat antikanker dengan formulasinya dari daun tanaman tapak dara putih, kemudian dijadikan kapsul yang dapat langsung diminum melalui beberapa tahapan, " ujar Falles.

Falles mengatakan, hasil temuan kapsul antikanker ini merupakan ide bersama dari beberapa mahasiswa Farmasi FMIPA Unsrat.

"Penemuan ini berawal dari hasil penelitian seorang dosen biologi yaitu Dinse Pandiangan. Saat itu penelitiannya baru sebatas penemuan zat aktif antikanker yang ada di tanaman tapak dara putih. Dan kami sebagai mahasiswa Farmasi Unsrat memiliki ide agar bisa dijadikan sebagai obat yang dapat dikonsumsi langsung oleh masyarakat, " ujarnya

Ayu Malinde, peserta debat dari Farmasi FMIPA Unsrat menambahkan, penemuan produk ini memiliki mekanisme secara ilmiah.

"Dengan mekanisme antimitosis yaitu mencegah pembelahan sel-sel ganas pencetus kanker, sehingga melalui zat-zat aktif seperti vinblastein, vikristin, dan alkaloid dari daun tanaman tapak darah ini, dapat mematikan pembelahan sel kanker melalui apoktosis atau kematian sel secara terprogram, " jelasnya.

Menurut Ayu, penemuan ini memiliki proses mulai dari bahan baku daun tapak dara sampai menjadi suatu kapsul.

"Prosesnya yaitu daun tapak dara yang sudah dicuci bersih, dikeringkan atau diangin-anginkan, kemudian dipilih daun yang bersih dan tidak cacat, daun tersebut kemudian dihaluskan sampai dalam bentuk serbuk, setelah itu dimasukkan ke dalam kapsul, " ujarnya.

Mahasiswa lain, Gabriela Ranti menambahkan, penemuan obat ini memiliki beberapa kelebihan. "Keunggulan dari produk kapsul ini sangat aman dikonsumsi, orang sehat juga bisa minum kapsul ini, karena fungsinya untuk mencegah kanker. Selain itu obat ini tidak memiliki efek samping, karena terbuat dari bahan-bahan alami, dan sangat ekonomis artinya sangat praktis karena bisa langsung diminum, " ujarnya

Menurutnya, melaui produk obat antikanker yang ditemukan, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesehatan.

"Sebagai pencetus ide ini, kami siap mengikuti beberapa tahap dan peraturan berdasarkan Undang Undang Kesehatan dengan terus mengembangkan penelitian ini, agar produk ini bisa dipasarkan dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, " ujarnya

Hosea Jaya Edy, koordinator Debat Formulasi Bahan Alam, mengatakan, selain mahasiswa Unsrat, ada juga mahasiswa dari beberapa universitas wilayah Indonesia Timur yang menemukan formulasi bahan alam dalam debat tersebut.

"Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar menemukan pemanfaatan kulit jeruk nipis dalam formulasi sediaan lilin aromaterapi yang bisa menenangkan pikiran dan menghilangkan stress dengan kandungan minyak atsiri di dalamnya. Mereka juga menemukan formulasi tablet kunyah dari tanaman rosella yang berfungsi sebagai antioksidan," jelasnya memberi contoh.

PANAS

Pemerintahan dimulai tahun 2004 lalu sering orang menyebutnya pemerintahan panas dimana terjadi banyak bencana. Pemerintahan 2004 itu panasnya dimulai dari bencana alam di Nabire disusul kemudian bencana alam meluluh lantakkan Aceh memakan ratusan ribu nyawa itulah bencana tsunami.

Kemudian gempa dan tsunami di Jogja.Bencana menahun dan sampai sekarang masih membuat orang menangis adalah semburan lumpur keluar dari perut bumi membanjiri hektaran tanah pemukiman 
penduduk bencana itu disebut dengan nama bencana lapindo. dan masih banyak lagi bencana lain dari tahun 2004 lalu dan jumlahnya mencapai ratusan.

Sejak tahun 2004 banyak pesawat jatuh pesawat sipil maupun pesawat militer dan itu menyudahi banyak nyawa manusia sampai-sampai penerbangan eropa memberlakukan larangan terbang bagi pesawat indonesia di wilayah udara eropa.
Panas terbaru tahun 2009 ini ledakan bom di Jakarta dilakukan oleh teroris, bom itu juga menyudahi banyak nyawa manusia.

Gerah…panas…
Tahu tidak “panas” dalam bahasa Makassar
itu apa?

Panas = BAMBANG

Yah… panas dalam bahasa Makassar
disebut dengan BAMBANG Untung tidak
ada SUSILO di depannya dan
YUDHOYONO di belakangnya.

Entah kapan Indonesia punya presiden bernama,”kipas”. Kipas yang bisa menghembuskan anging biar Indonesia bisa aman dan nyaman ditempati setiap orang di bumi Tuhan tercinta ini.

Kamis, 10 Mei 2012

Kisah Ayah Mengantarkan Jasad Anaknya ke Bogor


Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !! Terjadi Di Jakarta !!!, Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !! Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan.

Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi.

Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau.

Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya.

Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.

Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski.

Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya. Klik Bagikan agar semua orang tau betapa besarnya cinta seorang "AYAH"

Guru Tusuk Pelajar Karena Cemburu

Perbuatan guru yang satu ini tidak patut digugu dan ditiru. Betapa tidak, Ferdinan, nama guru itu, nekat menusuk seorang pelajar bermama Ahmad. Aksi brutal ini dilakukan hanya karena sang guru cemburu. Ferdinan kini sudah dijebloskan ke tahanan Mapolsek Pabean Cantikan, SUrabaya, Jawa Timur.

Ditemui di mapolsek, Ferdinan mengaku cemburu dengan pelajar di sebuah SMA negeri di kawasan Kenjeran.
"Dia berhubungan dengan mantan kekasih saya. Saya menduga dia lah pihak ketiga yang membuat hubungan kami kandas," ujarnya, Rabu (25/4/2012).

Penusukan ini terjadi pada Senin (23/4/2012) malam. Saat itu, Ahmad hendak mengantar Anggraeni, mantan kekasih Ferdinan, pulang di Jalan Pengampon. Tanpa banyak omong, Ferdinan langsung menusukkan obeng ke punggung Ahmad sebanyak delapan kali.

"Saya panas lihat dia bonceng mantan pacar saya," imbuhnya.
Sebelum menusuk Ahmad, pemuda 25 tahun yang pernah mengajar mata pelajaran sosiologi di SMK di kawasan Ketintang, mengirim pesan singkat ke Anggraeni. Ferdinan mengaku rindu dan ingin bertemu. Warga Perum Griya Kencana itu juga bertanya posisi Anggraeni.

"Dia jawab lagi di Royal Plaza sama pacar barunya. Saya jadi cemburu, karena kami baru putus awal April atau sebelum UN. Saya akhirnya nyanggong (menunggu) di depan gang mantan pacar saya, untuk buat perhitungan dengan pacar barunya itu," tutur Ferdinan.

Hubungan asmara Ferdinan dan Anggraeni terjalin sejak September tahun lalu. Ia mengenal remajawati 18 tahun dari guru les Anggraeni. Namun, Ferdinan mengatakan, tiba-tiba Anggraeni memutuskan hubungan itu secara sepihak pada 4 April lalu tanpa alasan.

Kapolsek Pabean Cantikan Kompol Rahman Wijaya menegaskan, Ferdinan dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan Berat."Dia terancam hukuman lima tahun penjara,"

Selasa, 08 Mei 2012

Seberangi Sungai Arus Deras Demi UN



Hari ini adalah hari kedua dalam ujian nasional tingkat SD di seluruh Indonesia. Namun Ujiuan Nasional bukanlah hal tantangan terbesar bagi sebagian siswa SD di negri ini, kondisi alam yang tidak bersahabat, serta minimnya fasilitas dan infrastrukturdari perhatian pemerintah-lah yang membuat siswa terpaksa menghadapi rintangan demi sampai di Sekolah.



          Seperti siswa SDN 2 keracak AjiBarang,Banyumas,Jawa Tengah harus menempuh maut dengan menyebrangi sungai yang berarus deras. Tidak adanya fasilitas jembatan memaksa para Siswa harus menenteng sepatu mereka agar tidak basah sampai sekolah. Pilihan menyebrangi sungai yang berarus deras dan membahaykan keselamatanini karna para Siswa ingin sampai Sekolah tepat waktu.

         Menyebrangi sungai selebar kurang lebih 50Meter  yang berarus deras ini sudah menjadi rutinitas warga sekitar.Pihak Sokolah sendiri bukannya tisak tau tentang resiko yang dihadapi anak didiknya setiap harinya untuk sampai di sekolah. Menyebrangi sungai memang kerap menjadi pilihan para siswa untuk sampai di skolah lebih cepat. sebab lokasi jembatan untuk menyebrangi sungai barjarak 4KM dari pemukiman warga, sementara jarak sekolah dari pemukiman hanya 100M jika menyebrangi sungai tanjuk.

Senin, 07 Mei 2012

Mengenang Kekejaman Pemberontakan Komunis Indonesia di Monumen Pancasila Sakti


Monumen Pancasila Sakti atau Monumen Pahlawan Revolusi dibangun atas gagasan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Dibangun diatas tanah seluas 14,6 hektar. Monumen ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang hingga mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.

Tempat ini dipilih karena diperkirakan PKI melakukan pembantaian terhadap 7 perwira TNI AD tidak jauh dari daerah tersebut yang dahulunya disebut sebagai desa Lubang Buaya.

Pada 1 Oktober 1965 pukul 02.30, pasukan penculik G.30 S/PKI sudah berkumpul di Lubang Buaya. Pasukan dengan nama Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief. Pasukan penculik Men/Pangad Letjen TNI A. Yani memakai seragam Cakrabirawa tiba di sasaran pukul 04.00 dan berhasil melucuti regu pegawai. Mereka memasuki rumah dan bertemu dengan seorang putera Jendral A. Yani. Para penculik menyuruh anak tersebut untuk membangunkan ayahnya. Jendral A. Yani keluar dari kamar dengan berpakaian piyama. Setelah seorang penculik mengatakan bahwa bapa diminta segera menghadap Presiden. Beliau akan mandi dan berpakaian dulu. Setelah seorang anggota penculik mengatakan tidak perlu mandi dan mencuci muka pun tidak boleh. Melihat sikap yang kurang ajar itu, Jendral A. Yani marah dan menampar oknum tersebut. Beliau berbalik dan menutup pintu. Ketika itu Jenderal A. Yani dibrondong dengan senjata Thomson dan gugur seketika. Kemudian tubuh Jendral A. Yani yang berlumuran darah diseret ke luar rumah dan dilempar ke atas truk, lalu di bawa ke Lubang Buaya.

PKI membagi beberapa kelompok untuk melakukan penculikan terhadap sasarannya. Dan PKI juga bersepakat untuk membunuh siapa saja yang berani melawan atau membatalkan aksinya. Selain Letjen TNI A. Yani, korban kekejaman PKI lainnya adalah sebagai berikut: Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI MT. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Penjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo dan Lettu Pierre Andries Tandean.

Dari ke tujuh perwira tersebut, empat diantaranya masih dalam keadaan hidup. Sesampainya dilubang buaya, ke empat perwira yang masih hidup disiksa beramai-ramai secara keji dan biadab oleh gerombolan G.30S/PKI kemudian dibunuh satu persatu. Di Lubang Buaya tubuh mereka dirusak dengan benda-benda tumpul dan senjata tajam. Sesudah disiksa para korban dilemparkan kedalam sumur tua yang sempit. Penyiksaan dan pembunuhan itu dilakukan oleh anggota Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan ormas-ormas PKI lainnya.

Jenazah ke tujuh perwira tersebut kemudian dimasukan kedalam sebuah sumur tua dengan kedalaman 12 m dan berdiameter 75 cm dengan posisi kepala di bawah. Selanjutnya para gerombolan G.30S/PKI menutup sumur dengan timbunan batang-batang pisang, sampah secara berselang seling beberapa kali dan terakhir sumur tersebut ditutup dengan tanah diatasnya. Sebagai tipuan mereka menggali Lubang-lubang sehingga dapat menyesatkan bagi orang-orang yang akan mencari jenazah ke tujuh perwira tersebut. Berkat kerja keras dari satuan-satuan ABRI, jenazah-jenazah tersebut dapat diangkat pada tanggal 4 Oktober 1965 dalam keadaan rusak prah akibat penganiayaan secara kejam di luar batas-batas kemanusiaan.

Dari seluruh kejadian diatas, Tugu Pahlawan Revolusi memberikan pelajaran yang sangat bermakna kepada kita. Terletak 45 m sebelah utara cungkung sumur maut. Patung Pahlawan Revolusi berdiri dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17 m dengan hiasan patung Garuda Pancasila. Dinding berbentuk trapesium tersebut berdiri diatas landasan yang berukuran 17 x 17 m2 dengan tangan yang tingginya 7 anak tangga. Ketujuh Patung Pahlawan Revolusi berdiri berderet dengan setengah lingkaran dari barat ketimur yaitu: Patung Brigjen TNI Soetodjo Siswomiharjo, Brigjen TNI D.I Panjaitan, Mayjen TNI R. Soeprapto, Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI MT. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, dan Kapten Pierre Andries Tandean. Ketujuh patung berdiri pada alas yang merbentuk lengkung dengan hiasan relief yang melukiskan peristiwa prolog, kejadian dan penumpasan G.30.S/PKI oleh ABRI dan Rakyat.

Walaupun ketujuh Perwira TNI ini telah tiada, namun jasa dan pengorbanan yang dilakukan akan dikenang dan menjadi sejarah besar dari Bangsa Indonesia. Di bawah ketujuh patung Perwira ini, terdapat tulisan “WASPADA DAN MAWAS DIRI AGAR PERISTIWA SEMATJAM INI TIDAK TERULANG LAGI”, inilah suatu bentuk harapan bagi generasi muda saat ini. Generasi muda  diharapkan tidak menyia-nyiakannya dan mampu mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Untuk itu tetap selalu waspada terhadap segala bentuk ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan NKRI.

Indonesia Butuh Pemimpin, Bukan Penguasa


Dalam kondisi kehidupan yang tidak menentu, kian terasa siapa yang mengendalikan kehidupan di negeri ini. Para petani, nelayan, buruh dan orang kecil serta miskin selalu dikalahkan oleh keadaan yang tak berpihak pada nasib kehidupan mereka. Seringkali mereka dijadikan obyek untuk mendapatkan keuntungan atau dianfaatkan sebatas kepentingan penguasa, setelahnya mereka kembali bergelut dengan penderitaan dan keras kehidupan.

Betapa susah jadi petani di negeri ini. Meski kerapkali dalam pelajaran geografi dikatakan kita hidup di negeri agraris. Saat musim tanam tiba petani slau dirundung susah, karena sulit untuk mendapatkan pupuk bagi tanaman yang merka budidayakan. Ketika musim panen tiba, mereka tidak juga bahagia, sebab harga jula produkpertaniannya selalu dibeli harga murah, karena disaingi dengan produk pertanian impor dari negeri tetangga dan China.

Laporan terbaru FAO (2010) menempatkan Indonesia sebagai negara produsen  perikanan ketiga terbesar di dunia dengan nilai produksi 5,384 juta ton. Dalam laporan  itu juga disebutkan bahwa China menjadi produsen teratas (14,8 juta ton), disusul Peru  (7,4 juta ton).Tingginya produk perikanan ini tidak otomatis meningkatkan keaejahteraan para nelayan, sebab mereka hanya pekerja yang harus menyerahkan hasiltanggkapan kepada pemilik modal. Peralatan melaut yang sederhana seringkali mereka mempertaruhkan nyawa dalam melakukan aktivitasnya. Terbatasnya peralatan melaut tercatat sebanyak 33 jiwa nelayan meninggal dunia di laut akibat cuaca ekstrem di sepanjang Januari–April 2011. menurut Kiara Banyaknya korban jiwa ini adalah buntut dari minusnya representasi negara. Artinya kehadiran negara dan pemimpin tidak banyak memperhatikan keselamatan nelayan dalam menjalani kehidupan di tengah laut.

Kehidupan perburuhan juga merupakan persoala kusut yang selalu menempatkan buruh sebagai obyek yang tak bisamenentukan nasibnya sendiri. Mereka selalu dikuasai para pemilik modal. Mereka yang diberi banyak jam kerja tetapi dengan upah yang amat terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Persoalan dengan perusahan kerapkali menjadikan buruh sebagai obyek yang selalu terkalahkan.Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Slamet Sutomo upah buruh masih rendah, hanya sekitar 20% dari seluruh biaya produksi

Peran Pemimpin Negara
Melihat pada persoalan kehidupan masyarakat, kita bertanya dimana peran pemimpin negara? Tidak dapat diingkari bahwa para pejabat negara merupakan jabatan politis, jabatan yang seharusnya beralih sebagai tugas kenegaraan dan lebih mengutamakan kepada kepentingan rakyat. Kepentingan untuk memberikan perlindungan, dan meningkatkan kesejahteraannya.

Tawar-menawar kepentingan seringkali melupakan kepentingan rakyat kecil. Betapa banyak anggaran negara kemudian bocor tidak sampai dan tepat sasaran. Kasus korupsi merupakan sebentuk representasi pejabat negara yang melakukan pemiskinan secara struktural sehingga mengurangi hak-hak rakyat yang harus didapatkan.

Tak jauh beda dengan beberapa pimpinan partai politik dan anggota DPR lebih banyak melakukan lipservive, mereka yang mengatasnamakan wakil rakyat tetapi kebijakan-keijakan yang dilahirkan tidak banyak berpihak kepada rakyat. Gaji dan fasilitas yang diperoleh para wakil rakyat melebihi dari cukup, sehingga mereka bisa hidup mewah ditengah kesengsaraan masyarakat yang terjerat kemiskinan. Mereka bagai pundi-pundi uang yang akanmenumpahkan recehannya menjelang pileg.

Pemimpin yang Kuasa Bukan Penguasa

Ternyata pemimpin yang kita pilih bukanlah pemimpin tetapi lebih sebagai penguasa yang menguasai hak-hak yang seharusnya kita dapatkan. Pemimpin merupakan orang yang lebih melayani, amanah, bisa jadi panutan, memiliki empati dan memahami apa yang dirasakan rakyat yang dipimpinnya. Sementara penguasa memiliki makna cenderung memerintah dari pada melakukan, dan menguasai mengabaikan hak orang lain.

Orang semacam Pak Dahlan Iskan –Menteri BUMN- adalah sosok pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat. Dia adalah orang yang mau melayani bukan minta dilayani. Pemimpin yang berbaur dengan masyarakat, sehingga paham apa yang dikeluhkan masyarakat. Pemimpin yang punya kuasa, tetapi tidak lalu menjadi ”Penguasa”. 

TERSENYUMLAH SAUDARAKU, JANGAN SAMPAI MENETESKAN AIR MATA.