Kamis, 03 Mei 2012

Pendidikan Tinggi Harga Mati

Saya melihat bahwa ada banyak lulusan PT yang hanya bekerja dengan gaji kurang layak, bekerja beda jurusan, dan mungkin paling buruk, bisa saja bekerja serabutan. Di mana pentingnya pendidikan tinggi?


Pertama, akan dibahas tentang tujuan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi tak pelak lagi menjadi salah satu pintu utama untuk dapat memahami jurusan yang dipilih secara mendalam. Namun, menurut saya, inti dari pendidikan bukan hanya sebagai media untuk berbagi ilmu, melainkan lebih untuk memuliakan manusia. Manusia diharapkan lebih bisa menonjolkan sisi humanisnya bagi sesama. Jadi, tujuan pendidikan tinggi sudah jelas bukan hanya ilmu.


Dengan kemajuan zaman, manusia harus bisa terbuka pada berbagai informasi, sekaligus pula dapat menyaringnya secara logis. Dalam pendidikan tinggi yang ideal, sikap berpikiran terbuka dan logis sangat dikembangkan, bukan hanya berurusan dengan plagiator, yang jelas-jelas tindakannya tidak logis. Tujuan utama pendidikan tinggi cukup jelas tampak bahwa kemampuan berpikir logis dan berpikiran terbuka lebih penting daripada ilmu. Lebih baik bisa memahami kondisi masyarakat melalui berita, daripada menjadi klien dukun, tak peduli sebanyak apapun ilmunya.


Sekarang, baru perlu atau tidak perlunya pendidikan tinggi dibahas. Apabila pendidikan tinggi bukan harga mati, harusnya ada pekerjaan untuk lulusan pendidikan menengah yang memadai. Apa faktanya? Lowongan kerja umumnya mensyaratkan pendidikan tinggi, walau hanya D1, sebagai kewajiban. Bila pendidikan tinggi menjadi harga mati, sudah jelas bahwa saat ini masih belum memungkinkan. Kenapa? Macam-macam. Ada surat edaran Dirjen Dikti, yang secara implisit membatasi jumlah lulusan, walaupun mungkin masih bisa diakali. Ada juga keterbatasan kuota, walau juga bisa diatasi. Kurang? Tambahkan plagiarisme, yang sudah jelas membuat pendidikan tinggi tak bermanfaat lagi. Kalau begitu, masih dalam kondisi mengambang? Tergantung dari sisi mana hal tersebut dilihat. Kalau dari kedua kontradiksi dari kedua pihak, sudah jelas ya. Dari sisi pekerjaan, lebih condong menjadikan pendidikan tinggi sebagai harga mati. Dari sisi pendidikan dan kenyataan di kampus, sudah jelas menolak mentah-mentah gagasan tersebut.


Saran? Tambahkan pekerjaan bagi lulusan pendidikan menengah, umum atau kejuruan. Mereka sudah cukup mahir melakukan berbagai kemampuan bisnis dan administrasi dasar, seperti pengolah kata dan statistika dasar. Berapa lama? Bisa jadi selamanya, atau paling tidak, bukan dalam waktu sebentar. Dalam masa itu, persiapan PT bisa segera dilakukan, untuk mencetak lulusan berkualitas tinggi, sesuai harapan masyarakat. Setelah itu? Jadikan pendidikan tinggi sebagai preferensi, bukan harga mati. Kalau semua jadi pekerja di kantor, yang bermodal ijazah pendidikan tinggi, siapa yang membersihkan halaman? Lulusan pendidikan menengah saja. Mereka juga sudah tahu cara-cara bertahan hidup, baik dengan pengalaman atau teori.

Potret Kehidupan Para Pemulung Di Stasiun Senen, Jakarta Pusat

Ada rasa bangga mendengar nama “Jakarta”. Ibu kota negara, tempat bertugas para menteri dan presiden, tempat bekerja dari para wakil rakyat, tempat tinggal orang-orang kaya di Indonesia, tempat beredarnya sebagian besar uang di negeri ini. Di balik deretan sebutan itu, ternyata Jakarta memiliki potret yang menyeramkan. Apakah itu?

Jakarta menjadi tempat tinggal orang terkaya dan termiskin di Indonesia. Untuk sebutan terkaya, bukan hal baru dan aneh lagi. Orang kaya memang pada umumnya memilih tempat tinggal yang nyaman. Salah satunya adalah Jakarta.Sebutan termiskin kiranya tidak salah dialamatkan kepada para pemulung dan pengemis di negeri ini. Ini hanya beberapa potret yang kiranya mewakili penderitaan di negeri ini.
13336085851047942376

Pemulung di Stasiun Senen pada umumnya bertempat tinggal di sekitar rel kereta api. Mereka mendirikan lapak ala kadarnya yang kadang-kadang, dalam waktu tak terduga digusur oleh petugas pol PP.

Tempat ini dipilih demi efektivitas bekerja. Sebagian besar dari mereka adalah pencari rezeki di gerbong kereta. Kereta yang datang dari daerah Jawa Tengah seperti Solo, juga Yogyakarta, dan Malang, Jawa Timur menjadi target pemulung. Di kereta-kereta ini, mereka biasanya memungut botol mimunan ringan seperti aqua, mizon, dan sebagainya. Botol-botol ini dijual lagi untuk memperoleh uang.

Selain botol, mereka juga biasanya memungut koran bekas dan gardus yang digunakan sebagai alas tidur di kereta. Gardus bekas dijual dengan harga mulai Rp. 5000 per kilo gram. Sedangkan koran bekas biasanya dilipat lagi dengan rapi dan kemudian dijual dengan harga sekitar Rp. 1000 sampai Rp. 2000 untuk dijadikan kipas angin. Selain itu, kadang-kadang mereka mengambil makanan dan minuman sisa untuk sarapan. Kereta biasanya datang mulai pukul 2 sampai 5/6 pagi.

1333608651621919645

Penulis pernah tinggal dengan mereka pada awal tahun 2007 yang lalu. Rasanya jijik dan muak melihat pekerjaan dan tempat tinggal mereka. Tetapi, beginilah kalau mau merasakan kehidupan mereka secara langsung mesti tinggal dengan mereka.

Waktu 2 minggu menjadi waktu yang menyenangkan pada saat itu. Meski kami bekerja cukup sulit, kami mendapatkan uang yang cukup untuk membeli makanan sehari-hari. Penulis bersama beberapa teman menginap di rumah salah seorang pemulung senior. Praktisnya, kami bekerja sesuai ritme kehidupan mereka. Bangun  pagi-pagi, mulung, mandi, sarapan, istirahat, jual koran, nonton TV, tidur lagi pada malam harinya.
Kelihatannya hidup kami (saya dan para pemulung) amat menderita karena tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tetapi, dalam penderitaan itu, kami menemukan kebahagiaan. Kami menjalin relasi antar-pemulung. Kalau seorang mendapat rezeki, yang lainnya kekurangan, kami biasanya bersolider dengan membagi rezeki itu. Solidaritas inilah yang mengenang dalam benak saya.

Kami tidak hanya memulung, kalau siang hari, kami menonton TV sambil membersihkan botol dan gelas aqua untuk dijual lagi. Atau juga sambil merapikan kertas koran untuk dijual kembali. Kalau ada rezeki banyak, kami juga membeli makanan spesial dari rumah makan terdekat, lalu bergembira bersama dalam pesta kecil-kecilan.

1333608709465219330

Pemulung sebenarnya mempunyai cukup rezeki dibandingkan para pengemis yang hanya meminta. Hanya saja-yang saya lihat-pemulung di Stasiun Senen pada umumnya, tidak mempunyai budaya menabung. Kalau hari ini dapat uang banyak, uang itu dihabiskan pada hari itu juga. Prinsip mereka praktis sekali, hidup untuk hari ini. Besok, akan ada rezeki lagi.

Rabu, 02 Mei 2012

Ketidak Adilan Hukum Di Indonesia

Dengan banyaknya ketidakadilan di Indonesia menyebabkan aksi-aksi masyarakat menentang pemerintahan. Zaman sekarang ini banyak kasus hukum yang tidak diselesaikan dengan adil, bahkan tidak sesuai dengan pasal yang ada. Dimana para penegak hukum memanfaatkan perannya sebagai hakim dan mafia hukum dikalangan pemerintah Indonesia.

Dengan adanya aksi-aksi para mafia hukum yang tidak terlihat disambut banyak protes dan kritik oleh masyarakat Indonesia. Perbedan hukuman antara orang berstrata tinggi dengan orang yang melakukan kesalahan dari kalangan strata rendah.Negara Indonesia memiliki pancasila yang harus di junjung tinggi agar keadilan merata, tidak memandang dari kalangan apapun karena setiap warga Negara berhak memperoleh Hak yang sama. Semua kalangan di Indonesia harus memperoleh perlakuan yang sama dari pemerintah, yang harus di usahakan setiap saat agar kenyamanan hukum di Indonesia merata.

Dunia kejahatan itu merupakan aksi dan reaksi dari pelaku kejahatan dengan korban atau masyarakat sekitar. Tidak jarang ketidakadilan hukumlah yang membuat pelaku kejahatan bertindak berani. Kalau mereka (pelaku kejahatan) itu tertangkap, mereka diamuk massa, dan itu taruhannya nyawa. Karena taruhannya nyawa, (mereka) pun bertindak tidak tanggung-tanggung.Hanya ada dua pilihan dalam melakukan aksi kejahatan di ruang publik, yakni ia gagal atau berakhir. Kalau gagal ia bisa mati, sedangkan sedang kalau berakhir berarti dia lari. Ini terjadi pada kejahatan yang terbuka, misalnya perampokan. Karena pada saat mereka memutuskan untuk melakukan perampokan, ia sudah telanjang di depan umum. Orang-orang mengetahui siapa pelakunya, ciri-cirinya dan senjata apa yang digunakan, berbeda dengan tindak pencurian yang mengendap-endap.

Banyak masalah-masalah yang terjadi di negeri ini tetapi semua masalah tersebut dibelokkan, sehingga semua masalah tersebut tidak kunjung selesai. ”Memang ada ketidaksesuaian, karena banyak masalah yang sudah jelas tapi dibelokan,” ujar Mahfud Md, ketua hakim Mahkamah Konstitusi. Dengan melihat kasus seperti itu, supaya kasus itu dikembalikan saja dengan hukum alam. Mengapa demikian, menurutnya, sekarang banyak masalah terhadap sejumlah orang namun, masalah tersebut tidak ditangani dengan baik. ”Padahal, masalah sistem sudah selesai, karena sudah dibuat sekitar 300 Undang-Undang untuk memperbaiki sistem,”

lembaga-lembaga yang ada di negara ini, harus berhenti bicara, khususnya berbicara tentang sistem-sistem yang adanya pada teori. Karena  semua teori tentang sistem sudah habis dijadikan Undang-Undang.Dalam hal ini, kepentingan suap-menyuap yang ada di negeri ini tidak hanya berupa money politic tetapi juga dengan jalan penipuan,” Menegakkan hukum di negara ini sangatlah sulit, disebabkan aparat-aparat hukum itu pernah juga melakukan hal yang sama. Yang dimanfaatkan oleh penjahat adalah masa lalunya akan dibongkar apabila kasusnya dibuka.

Supaya ada tindakan terkait dengan kondisi masyarakat yang mengalami ketidakadilan ini, bahwa hukum ada 2 (dua) aspek, yaitu formal dan subtansi. Aspek subtansional menghendaki persoalan diselesaikan secara tepat. Masalah-masalah yang lama, bila tidak disamakan itu tidak jadi masalah. Namun yang menjadi bermasalah jika permasaialan tersebut berbeda. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kembali ke etika moral.

Kesejahteraan Hidup Para Buruh Di Mana ?


Buruh hanyalah suatu pekerjaan yang bukan diinginkan setiap orang. Buruh bukanlah suatu cita-cita sejak kecil. Namun apala daya, Nasib berkata lain.Setiap orang tentunya ingin memiliki hidup yang layak sebagaimana para Pemimpinnya.
 
13358805262085019512
Bukan suatu yang salah pula menjadi seorang buruh,karena tanpa mereka semua apa jadinya suatu perusahaan ataupun tempat usaha tanpa mereka semua.Buruh merupakan suatu aset yang sangat berharga yang perlu diperhatikan kesejahteraan dan kelayakan hidup merekaNamun kadangkala sering terjadi Persepsi yang tidak menyenangkan tentang buruh.

Sudah semestinya pemerintah ikut ambil bagian untuk memenuhi kesejahteraan para buruh. Dimana bukan hanya mempertemukan para investor dengan serikat buruh dan pemerintah sebagai penengahnya,Namun dengan membuat UU keternagakerjaan dengan berpihak kepada buruh tanpa mengesampingkan kepentingan pengusaha juga.Jadi hubungan antara buruh dan perusahaan saling terikat yang bersifat saling menguntungkan.

Namun terkadang, Pemerintah tidak pernah berpihak kepada buruh, mereka pasti selalu berpihak kepada pengusaha.Kenap ??? Karena buruh hanyalah seorang buruh yang tidak bisa berbuat.sedangkan pengusaha bisa melakukan segala cara. Karena uang mereka bisa bekerja dengan sendirinya untuk mengatur pemerintah Benarkah ???.

dengan semakin sejahteranya kehidupan para buruh, tingkat daya belipun juga dipastikan meningkat pula. Hal ini tentunya bisa dijadikan acuan utama pemerintah bahwansanya  secara tidak langsung merasakan dampak dari pajak jualbeli setiap transaksi yang dilakukannya. iya kan ???

Kalo saja seorang buruh mampu membeli 1 sepeda motor, dikalikan sekian banyak buruh, Maka dapat dipastikan jumlah besaran pajak yang dihasilkan untuk pemerintah nantinya. Tapi dengan catatan tuntutan kehidupan layak para buruh perlu mendapatkan perhatian yg serius juga dari pemerintah.

Buat yang sedang duduk menjabat dan yang merasa bertanggung jawab, tolong deh perhatikan nasib kaum buruh

Potret Kemiskinan Di Papua

Indonesia yang dulu terkenal dengan ragam-budaya, ramah-tamah, kesederhaannya, serta melimpahnya sumber daya alam sampai ada lagu tanem batang tumbuh pohon, sekarang apakah kita masi sekaya itu? Mari kita lihat kembali potret gelap bangsa ini.



Papua, sebuah wilayah dengan keluasan mencapai 710.937 km2, dan 410.660 km2 diantaranya adalah daratan. Hutannya menghampar luas, jika digabung dengan Papua Nugini maka hutan Papua terhitung nomor dua terbesar di dunia setelah Amazon. Di wilayah ini, terdapat 312 suku asli dengan bahasa dan dialek masing-masing yang khas, hingga tercatat 15% dari seluruh bahasa yang ada di dunia ini dimiliki oleh Papua. Bentuk-bentuk seni orang papua pun sangat beragam sesuai etnik mereka. Di sebuah daerah dimana bahasanya berbeda dari kampung satu ke kampung lain, sangat mungkin jika ekspresi artistik yang muncul akan berbeda bentuknya. Senjata, ukiran, kerajinan, dan instrumen musik dibuat oleh orang-orang yang berbeda di tempat yang berbeda pula, sesuai dengan ketrampilan dan keyakinan tradisional mereka.

Hingga kini Papua adalah tempat dimana nilai-nilai tradisi itu masih dipegang oleh penduduk aslinya. Tak heran jika, selain kekayaan alamnya memikat hati para investor yang melihatnya sebagai sumber keuntungan tak terperi, Papua juga adalah surga bagi para antropolog di seluruh dunia.



Suku-suku pedalaman Papua masih hidup seperti jaman prasejarah?? tanpa sandang dan pangan yang memadai, tak ada pendidikan yang cukup (bukannya ini ada disalah satu pasal UUD 45, apa mereka bukan warga negara RI?), apa lagi teknologi maju. Sebagai bangsa Indonesia tentunya kita kecewa sekali melihat hal ini, Tanah papua hanya disedot hasil buminya saja, apa bedanya kita dengan penjajah jepang atau belanda waktu jaman jebot dulu.







Apakah pemerintah masih santai-santai saja selama melihat mereka masih tersenyum dengan polosnya dan menunggu sampai mereka memberontak minta untuk merdeka, tentunya negara-negara lain yang menginginkan pecahnya indonesia dengan senang hati membantu, akan kasus lepasnya timor-timur akan kembali terulang pada papua? bila terjadi, hancurlah kesatuan negara kita.







Papua merupakan salah satu propinsi/pulau terindah di Indonesia dan Satu satunya pulau yang memiliki species laut terbanyak jenisnya di dunia begitupun dengan pegunungannya yang sangat indah,alamnya yang masih sangat alami sekali merupakan target utama para bangsa asing,kalau ga ada papua,kita ga akan punya jenis burung berjenis Cendrawasih lagi.

Dan sayang banget kalau para pemain pemain bola kita yang berbakat yang mayoritas pemain terbaik berasal dari papua nantinya akan menjadi lawan,bukan kawan???

So? Sampai kapan pemerintah dan sebagian warga negara Indonesia melihat sebelah mata terhadap mereka? Mereka juga sama dengan kita,manusia dan satu kesatuan Republik Indonesia.











Yah semoga aja sebagai bangsa yang satu,bangsa yang tidak melihat suku agama dan ras..kita masih punya hati nurani untuk tidak menelantarkan saudara saudara kita di Papua.

GOD BLESS YOU..

Yong Dolah; Budayawan-Intelektual Yang Terlupakan

BUNG Karno pernah berpesan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan pendahulunya.
Tatkala pernyataan ini digunakan sebagai alat untuk menguji kebesaran bangsa ini, maka mungkin kita belum bisa menjadi bangsa yang besar.

Sebab, banyak hal yang membuat kita selalu lupa dengan para pahlawan dan pendahulu yang telah pernah mengukir sejarah cemerlang untuk kita nikmati saat ini. Di antara sekian banyak pendahulu yang dilupakan adalah sosok Yong Dolah sang penutur sastra melalui susunan kata hiperbola yang memiliki kekuatan intelektual nan tinggi.

Dalam cerita lisan masyarakat Melayu, terutama Bengkalis, sosok Yong Dolah selalu divisualisasikan kepada sosok pembual yang suka bercerita, tapi yang diceritakan adalah kosong belaka.

Bukan hanya bagi orang awam, akan tetapi juga sebagian intelektual yang memiliki pandangan yang sama terhadap sosok Yong Dolah. Bila hal ini terjadi, maka ada beberapa faktor kesalahan, yaitu: Pertama, bahasa yang digunakan Yong Dolah memiliki nilai filosofis yang tinggi sehingga sampai saat ini pun masih sulit dicerna dan dipahami maksudnya oleh banyak kalangan.

Akibatnya, kita masih belum mampu menterjemahkan dan memahami maksud Yong Dolah secara substansial. Hal ini berarti, intelektualitas dan kebijaksanaan Yong Dolah sangat tinggi untuk zamannya, bahkan mungkin saat ini dan perlu kajian secara mendalam.

Kedua, informasi tentang cerita Yong Dolah tidak mampu ditrasformasikan pada generasi saat ini karena tidak adanya upaya dari pemerintah daerah untuk mempublikasikan cerita filosofis Yong Dolah. Sebab, paradigma saat ini hanya lebih didominasi oleh faham materialistik (pembangunan benda nampak) dan hedonism (kenikmatan sesaat).

Sementara untuk mempublikasikan cerita Yong Dolah ditolak oleh kedua mazhab tersebut. Ketiga, kita sebenarnya adalah orang yang belum tercerahkan, sebab kehidupan selalu mentertawakan orang, padahal tanpa kita ketahui kita justru sedang menertawakan diri sendiri, bukan mentertawakan cerita Yong Dolah. Hal ini disebabkan karena kita tak mampu memahami apatahlagi membuat melebihi apa yang dilakukan oleh orang yang kita tertawakan.

Akibat kesalahan di atas, maka eksistensi Yong Dolah dengan cerita filosofisnya yang demikian tinggi menjadi hilang. Yang muncul hanya pelecehan terhadap buah intelektual zaman yang memiliki nilai demikian tinggi tersebut. Jika Minangkabau memiliki filosofi bak “menanam karambi condong,” memiliki makna yang luas.

Antara lain, mungkin kita lahir di sebuah negeri, tapi justru dihargai bukan di negeri kita lahir, tapi harum di negeri orang. Namun, anehnya tidak demikian dengan Yong Dolah. Ia tidak harum di luar daerahnya sendiri, bahkan anehnya, di tempat Yong Dolah pernah hidup pun ia tidak mendapat penghormatan yang layak sebagai sosok sastrawan yang memiliki intelektualitas tinggi.

Jika Soeman Hs termasuk sosok intelektual sastra yang mengekspresikan kecerdasannya melalui tulisan, namanya harum dan bahkan diabadikan sebagai nama perpustakaan daerah. Namu, meskipun sudah diabadikan menjadi nama perpustakaan daerah yang menjadi kebanggaan bumi Melayu, akan tetapi karya Soeman HS sendiri masih sangat sulit ditemukan sehingga tidak bisa dibaca oleh generasi saat ini.

Jika tidak percaya, cobalah tanyakan pada generasi saat ini, sejak SD sampai PT apakah mereka pernah tahu dan membaca karya sastrawan Melayu yang besar tersebut? Mungkin sebagian besar tidak pernah menyantap karyanya dan hanya tahu nama Soeman Hs karena menjadi nama perpusatakaan daerah saja. Alangkan menyedihkan...

Sementara Yong Dolah, adalah sosok intelektual yang mengekspresikan kecerdasannya melalui oral (lisan) yang hanya menjadi cerita yang mengandung cemoohan. Padahal, cara Yong Dolah mengekspresikan sastranya merupakan cara dan bentuk media yang ampuh untuk zamannya.

Sangat banyak intelektual yang menggunakan cara oral dalam mencurahkan kecerdasannya saat itu. Katakanlah seperti Wak Setah, seorang perempuan Melayu yang memiliki kemampuan bertutur (bercerita) yang sangat brilian.

Sayangnya, penuturan cerita yang pernah disampaikannya tak pernah dibukukan, sehingga sulit ditemukan lagi. Padahal, mayarakat Melayu modern telah banyak yang tidak lagi mengetahui cerita daerahnya akibat arus novel modern yang tidak mencerminkan nilai Melayu yang islami.

Padahal, apalah sulitnya bagi negeri Lancang Kuning yang kaya ini untuk mengumpulkan cerita Yong Dolah dan Wak Setah untuk kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku agar bisa menjadi bacaan generasi saat ini dan akan datang.

Bukankah Bumi Lancang Kuning telah memproklamirkan diri sebagai Pusat Budaya Melayu Asia Tenggara? Bagaimana mungkin visi ini terwujud tatkala secara intern generasi negeri ini kurang untuk tidak sama sekali memahami budayanya dan kekuarangan bacaan para intelektual budaya Melayu yang pernah ada dahulu dengan kekuatan nilai religious budaya Melayu yang demikian dalam. Padahal, karya mereka memiliki keluasan makna dan dalam filosofis religiusnya.

Yong Dolah paling tidak merupakan sosok intelektual sastrawan Melayu yang pernah lahir di Bumi Lancang Kuning ini yang mengekspresikan kecerdasannya dalam bingkai sastra yang menggunakan kata hiperbola yang penuh makna.

Paling tidak, sampai saat ini belum ada yang mampu melakukan bentuk sastra hiperbola sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yong Dolah. Entahlah... Apakah masih bisa kita tertawa juga lagi ketika mendengar cerita Yong Dolah. Jika masih bisa, syukurlah. Tapi tertawa karena keasyikan menikmati kedalaman intelektualitasnya dan kepiawaiannya memainkan kata, bukan mengejeknya.

Sekali lagi, entahlah... Tapi, Yong Dolah boleh berbangga hati karena kata filosofisnya bisa membuat kita tertawa dan Wak Setah melalui celotehnya membuat ia menjadi sosok perempuan Melayu yang diperbincangkan oleh Pusdatin Puanri.

Beruntunglah Wak Setah karena Pusdatin Puanri masih memperjuangkannya, tapi tidak demikian dengan Yong Dolah yang tak ada mau memperjuangkan intelektualitasnya. Sementara masih banyak para pembual dan pencoleteh lainnya yang lahir hari ini justeru hanya mampu membuat kita menjadi geram.

Masihkah kita meneriakkan bahwa kita bangsa yang besar, namun tidak mencerminkan kebesaran suatu bangsa tatkala banyak sosok intelektual zaman dahulu yang tak mampu kita hormati sesuai pada tempatnya? Jika memang demikian, bersiaplah bahwa kita mungkin jauh tak dikenang pada zaman dan generasi yang akan datang karena kita telah banyak memutuskan mata rantai sejarah intelektual dan budaya anak negeri ini. Wa Allahu a’lam bi alshawwab.***

Prof Dr Samsul Nizar MA, Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau, Dosen Program Pascasarjana (S-2) UIN Suska Riau, dan Dosen STAI Nurul Falah Air Molek Inhu.

Atap Kelas Roboh, Siswa Harus Belajar Di Dekat WC

Sungguh miris potret pendidikan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sudah hampir satu tahun, siswa siswi SDN Bagon II, Kecamatan Puger harus belajar di luar kelas yang lokasinya berdekatan dengan kamar kecil.

Tidak hanya itu, mereka juga rela menerima pelajaran yang diberikan guru di Masjid Nurul Ikhlas yang tak jauh dari sekolah. Kondisi darurat ini mereka lakukan akibat 3 ruang kelas dan 1 ruang kantor, atapnya ambrol.

Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, guru SDN Bagon II membagi siswanya agar sistem belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Guru memindahkan siswa kelas 4 dan 5 ke masjid, kelas 2 dipindahkan belajar di dekat WC sekolah dan selebihnya belajar di ruang kelas yang masih tersisa dan masih layak karena tidak ada bangunan yang retak.

"Mau bagaimana lagi karena keterbatasan ruangan, kami terpaksa memindahkan anak didik kami ke masjid dan dekat WC," kata Sohib Hanafi, kepala sekolah Sekolah Dasar Negeri Bagon II kepada detiksurabaya.com Selasa (2/5/2012)

Meski demikian pihak guru memahami dan mengerti akan dampaknya jika siswa siswi belajar berdekatan dengan WC, selain konsentrasi terganggu, juga mempengaruhi kesehatan setiap anak yang belajar di lokasi darurat. "Memang dari segi kesehatan tidak bagus, karena anak anak terganggu dengan bau dari WC," tambahnya.

Pihak sekolah sudah melaporkan ambrolnya 4 bangunan buatan 1977 ke Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Namun hingga kini belum ada realisasi, sementara konsentrasi siswanya hari demi hari semakin menurun.

"Sudah setahun saya belajar disini, ngak enak tiap pagi selalu bau," keluh Imron, salah seorang siswa kelas 2 saat mengikuti mata pelajaran Matematika.


  Sumber